Es dawet merupakan salah satu minuman tradisional yang banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia dengan ciri khas masing-masing daerah. Salah satu Kabupaten yang terkenal dengen dawet sebagai kuliner khas dan bahkan menjadi ikon Kabupaten adalah Kabupaten Banjarnegara yang memiliki dawet Ayu Banjarnegara. Penasaran ingin tahu lebih dalam tentang dawet ayu Banjarnegara? Yuk kita simak!
Kabupaten Banjarnegara merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Propinsi Jawa Tengah, berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo di sebelah timur, Kabupaten Batang dan Pekalongan di sebelah utara, Kabupaten Banyumas dan Purbalingga di sebelah barat serta Kabupaten Kebumen di sebelah selatan. Potensi wisata di Banjarnegara lebih cenderung pada wisata alam karena kenampakan alam yang indah. Beriringan dengan wisata, kuliner di Banjarnegara juga terus berkembang sehingga banyak beraneka macam produk inovasi baik lokal maupun internasional yang membanjiri. Di sisi lain, Dawet sebagai minuman khas berdiri tegak bahkan dijadikan sebagai ikon Kabupaten. Dawet Banjarnegara atau lebih dikenal sebagai dawet ayu Banjarnegara cenderung dibuat secara tradisional dengan menggunakan peralatan tradisional dan bahan baku lokal serta dibuat dengan resep turun temurun untuk menjaga keasliannya.
Dawet Ayu Banjarnegara yang paling terkenal adalah dawet Bapak Munardjo bahkan sampai saat ini masih berjualan di Jalan Dipayuda dengan menggunakan resep yang diturunkan dari Ayahnya, Mbah Yusri. Bapak Munardjo dikenal memiliki istri cantik sehingga dawet Banjarnegara dikenal dengan istilah dawet ayu Banjarnegara. Di sisi lain menyebutkan bahwa penambahan kata “ayu” dikarenakan penampakannya yang indah secara visual dengan perpaduan warna hijau dari cendol, putih dari kuah santan, cokelat dari gula merah atau gula aren serta kuning dari nangka. Salah satu keluarga dari Bapak Munardjo yang saat ini meneruskan usaha tersebut menuturkan bahwa penambahan kata “ayu” dikarenakan centong cendol digambarkan menyerupai penampakan dewi Srikandi yang terkenal dengan paras ayunya.
Ciri khas yang membedakan antara dawet dari Banjarnegara dengan dawet lainnya yaitu dua tokoh pewayangan yang ditempatkan pada kedua sisi pikulan yaitu Semar dan Gareng. Kedua tokoh pewayangan tersebut menghasilkan kata “mareng” dari bahasa Jawa yang memilki arti musim kemarau. Hal itu diharapkan dawet ayu menjadi minuman yang mampu melepas dahaga karena kesegarannya dan juga sedikit mengenyangkan karena cendolnya terbuat dari tepung sagu aren. Selain itu, pemilihan kayu yang digunakan untuk membuat tokoh pewayangan tersebut menggunakan kayu kantil karena beberapa orang meyakini bahwa kayu kantil tersebut mengandung unsur magis untuk pelarisan. Tidak heran bunga kantil juga sering digunakan untuk sesaji pada upacara tertentu.
Bentuk perhatian pemerintah Kabupaten Banjarnegara terhadap dawet ayu sebagai kuliner khas diketahui dari gencarnya promosi yang dilakukan. Promosi tersebut dimaksudkan untuk mengenalkan dawet baik di kancah lokal, nasional maupun internasional serta memberikan semangat kepada pelaku UMKM untuk dapat terus berproduksi dengan mengadakan acara pada saat Festival Serayu Banjarnegara pada tahun 2015 dengan tema “Banjar Banjir Dawet” mengumpulkan pelaku UMKM dawet di Stadion Kolopaking untuk menyediakan dawet dan disajikan secara gratis bagi masyarakat. Selain itu, dibuatnya angrkingan dawet ayu pada tahun 2014 di salah satu sisi alun-alun kota juga merupakan bentuk perhatian pemerintah untuk menegaskan bahwa dawet ayu merupakan ikon Kabupaten dan mendukung pelaku UMKM untuk memroduksi dawet dengan baik, sedangkan untuk masyarakat umum diharapkan untuk menjaga agar dawet tidak hilang tergerus jaman.
serabine.co http://www.serabine.co.id/
kopiresmi https://kopiresmi.com/


